Gu Family Book Fan Fiction by Daydreamer: Chapter 1

Judul Asli: Just A Beginning
Penulis: Daydreamer
Website: http://gfbfanfictions.wordpress.com/
Translanted by: @ekarifin

CHAPTER 1

Segalanya Dimulai, Kembali 

Kita akan bertemu lagi, Yeo-wool-ah. Saat kita bertemu kembali, aku akan menjadi yang pertama mengenalimu… dan pada saat itu, aku akan menjadi yang pertama mencintaimu. Aku akan menunggu selama apapun itu, Yeo-wool-ah.

Aku mencintaimu.

“Ini bulan sabit ke 5221 yang aku temui sendirian. Tahun ke 422ku tanpa dirimu Yeo-wool-ah”

Apakah dia benar-benar sendirian selama ini?

Dari jendela, Kang-chi menatap bulan sabit. Seperti bernostalgia, Kang-chi menutup matanya.

Dia tidak bisa menahannya lagi. 422 tahun telah berlalu dan Kang-chi masih belum bisa menerima fakta bahwa dia telah pergi. Mungkin dia tidak akan pernah bisa menerima hal itu.

Dia hampir hancur ketika tiba-tiba lengan Yeo-wool merangkulnya dari belakang.

“Yeo-wool-ah” dia berbisik ketika air mata mulai mengalir dari matanya yang tertutup.

Dia merangkul Kang-chi dan berbisik “Jangan menangis, Kang-chi-ya. Aku tak ingin diingat sebagai kesedihanmu. Aku ingin diingat sebagai kebahagiaanmu. Aku menjadi tawamu, bukan air matamu. Ketika kau mengingatku, aku ingin kau bahagia. Itu adalah keinginanku yang ketiga.”

Dia membuka matanya dan melihat sekeliling tapi dia sudah tidak ada, sekali lagi dia ditinggalkan sendirian di ruangannya.

Kau tidak hanya diingat sebagai kebahagiaan, Yeo-wool-ah. Tapi kaulah kebahagiaanku.

Pintu terbuka, seorang wanita berdiri bersandar di dinding ketika dia mengetukkan tangannya yang ramping.

“Oi, Kang-chi”

“Sae-yeon-ah, apa yang membawamu ke sini?” Dia tersenyum.

“Tidak ada. Hanya merasa ingin mengunjungi teman lama”

“Tapi, kau lebih tua dariku!”

Wanita itu memutar matanya “Oh, diam kau Kang-chi! Aku tahu aku sudah tua, tapi berhentilah mengungkit-ungkitnya”

Dia duduk di sofa dan Kang-chi kembali menatap kearah jendela untuk sekali lagi. mereka saling terdiam seperti itu kurang lebih selama 10 menit.

“Sae-yeon-ah?”

“Hmmm?”

“Apa yang kau lakukan?”

“Apa yang kau pikir sedang kulakuan? Sedang duduk, tentu saja!”

“Bukan itu maksudku. Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan di sini?”

“Bukankan aku yang seharusnya menanyakan pertanyaan itu Kang-chi?” Wanita itu tersenyum. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Kang-chi mengalihkan pandangannya dari jendela dan menoleh kearah wanita itu “Apa maksudmu dengan mengatakan itu?”

“Apakah itu sebuah pertanyaan? Tentu saja, kau tahu apa maksudku.”

Dia kembali mengalihkan pandangannya ke jendela dan menghembuskan nafas panjang. 422 tahun. Dia sudah menunggu selama 422 tahun, tidak yakin apakah dia akan bertemu dengannya lagi. Tidak yakin apakah dia akan kembali. Tidak yakin apakah dia harus terus menunggu. Apakah dia sudah mulai lelah? Mungkin. Pada akhirnya, pada satu titik tertentu, seseorang akan merasa lelah terhadap ketidakpastian. Seseorang akan mulai merasa lelah menunggu, hidup dalam kesedihan seperti ini.

Sae-Yeon dengan perlahan berdiri, sepertinya dia hendak berjalan pergi, namun kemudian dia berbalik dan menatap Kang-chi.

“Itu menyakitkan kan? Satu hari tanpa orang yang kau cintai? Apalagi selama 400 tahun?” Wanita itu menarik nafas “Tapi apa yang bisa kita lakukan, Kang-chi-ah? Tidak perduli sebarapa sakitnya itu.Tidak perduli betapa lelahnya kita. Hati kita, tidak akan pernah mau membiarkannya pergi begitu saja. Hati kita tidak akan pernah mau menyerah.”

Seo-yeon menunduk, menggigit bibirnya sebagai usahanya untuk tidak menangis. Kang-chi melihat Sae-yeon, dari semua teman yang dimilikinya, wanita itu adalah satu-satunya orang yang mengerti dirinya – kesedihannya. Itu karena mereka berdua mengalami penderitaan yang sama – penderitaan melihat orang-orang yang mereka cintai pergi meninggalkan mereka secara tidak terduga dan penderitaan akan menunggu dengan ketidakpastian.

“Yaah Sae-yeon-ah! Kau mulai dramatis lagi kan!”

“Oh ya?” Wanita itu membiarkan dirinya tertawa, bersamaan dengan itu dia pun mulai tenang “Well, ini salahmu! Kau yang memaksaku mengeluarkan seluruh sisi depresiku” Kemudian dia berjalan kearah pintu.

“Oi kau mau pergi kemana?”

“Aku merasa perlu untuk berjalan-jalan dan minum. Kenapa? Kau mau ikut?”

“Aish kau satu-satunya makhluk abadi yang suka minum-minum”

“Asal kau tau saja. Aku satu-satunya makhluk abadi yang kau kenal! Well, percayalah, aku bertemu dengan makhluk abadi lainnya dan melihat mereka minum, toleransi alkohol dalam tubuhku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka! Pergilah berkeliling atau lakukan apa sajalah, oke? Malam ini terlalu indah untuk dihabiskan di sini!” Kang-chi mengawasinya ketika dia menutup pintu di belakangnya. Dia tersenyum dan sekali lagi menatap bulan sabit lewat jendela. Sae-yeon benar. Tidak perduli apapun itu, hatinya tidak akan pernah bisa menyerah. Karena memang hatinya tidak menginginkan itu.

Yeo-wool duduk di sebuah kursi. Dia menarik nafas ketika dia melihat tumpukan kertas yang menggunung di meja kerjanya. Dari semua pekerjaan yang ada di markas besar, pekerjaan yang berhubungan dengan kertas dan dokumen-dokumen lah yang paling dibencinya. Dia tidak menjadi agen untuk melakukan pekerjaan seperti itu. Dia tidak dilatih untuk itu.

Tiba-tiba handphonenya berdering.

“Halo?”

“Yeo-wool-assi, ini aku. Guru Yeo-joo. Aku-aku perlu bantuanmu.”

“Oh? Sudah lama sekali ya. Apa kabar? Apa ada yang bisa kulakukan untukmu, guru?”

“Aku ketakutan! Kau tau, ada sekelompok geng yang terus mengikutiku. Yeo-wool-ah!”

“Dimana kau sekarang?”

“Dekat Hotel 100 Tahun”

“Aku akan segera kesana! Tolong, tetap tenang dan jangan kemana-mana!”

Yeo-wool dengan cepat mengenakan jasnya kemudian dia bergegas berlari kearah jalan raya.

Yeo-wool terus berlari dan berlari, sampai dia secara tidak sengaja menabrak seorang wanita, dan dokumen-dokumen yang dibawanya berteberan kemana-mana.

“Ya Tuhan, aku minta maaf!” Yeo-wool terengah-engah, sambil membungkuk dia membantu mengumpulkan kertas-kertas itu. Dia menyerahkan kertas-kertas yang bisa dikumpulkannya, namun dia justru menemukan wajah yang familiar.

“Sae-yeon-ah!”

“Oh, Yeo-wool-ah! Itu kau! Kau sepertinya terburu-buru. Pergilah. Aku akan mengumpulkannya sendiri.” Dia tersenyum dan rambutnya yang halus tertiup angin sepoi-sepoi.

“Kau yakin?”

“Positif, tapi hey kau berutang satu gelas minuman padaku untuk ini” Sae-yeon mengedipkan sebelah matanya dan Yeo-wool mulai berlari kembali. Dia berteriak kembali “Terima kasih, Sae-yeon-ah! Ingatkan saja aku ya!”

Apakah dia pergi kearah hotel? Semoga saja. Ini hanya masalah waktu untuk mereka bertemu kembali. Kang-chi sudah menunggumu cukup lama.

Lampu lalu lintas berubah merah. Kang-chi menatap handphonenya dan tiba-tiba menangkap sekilas seorang gadis berlari menyebrangi jalan. Dia terkesima sesaat dan terus berusaha mengamati gadis yang sedang berlari tersebut. Apakah itu dia?

“Hei kau, angkat tanganmu! Sekarang!”

“YAAA”

Kang-chi sudah hendak kabur ketika tiba-tiba sebuah suara yang tegas tapi familiar itu kembali berteriak kepadanya.

“Sudah kubilang jangan bergerak!”

Suara itu. Mungkinkah itu, dia? Tidak. Jangan beri aku harapan kosong lagi.

“Dengar, ini sepertinya hanya salah paham”

“Angkat tanganmu!”

Kang-chi akhirnya menarik nafas frustasi. Dia mengangkat tangannya dan kemudian berbalik dan berhadapan dengannya.

“Sudah kubilang ini hanya salah pa-.”

Kalimatnya terhenti ditengah-tengah, bersamaan dengan figur seorang wanita yang melangkah mendekat. Pertama hanya sepasang sepatu bootnya yang terlihat dan kemudian setelan celana panjangnya, diikuti jari-jari tangannya yang panjang memegang sebuah pistol, dan akhirnya sesosok wajah yang familiar berseri-seri di bawah sinar bulan. Kang-chi terkesima.

“Jangan bergerak”

“Yeo-wool-ah” Nada suaranya lemah, lembut namun mengisyaratkan kesedihan dan kerinduan.

Ya, itu dia. Itu dia. Itu benar-benar Yeo-wool-ah.

Gadis itu menurunkan pistolnya. Dadanya mulai sedikit sesak. Jantungnya mulai berdetak cepat, dan dia juga bisa merasakan kesedihan itu.

“Bagaimana. Bagaimana kau bisa tahu namaku? Apakah kau mengenalku?”

Siapa kau? Caramu menyebut namaku… Nada suara itu… Suara itu… Aku bersumpah aku pernah mendengarnya sebelumnya.

Merasa gembira, air mata mulai menetes dari mata Kang-chi, namun dia masih bisa membuat dirinya tersenyum.

“Mungkin…” Dia tersenyum “Aku tidak yakin… Rasanya seperti aku mengenalmu, dan rasanya juga seperti aku tidak mengenalmu”

Dengan kata-kata itu, Yeo-wool mendapati dirinya melangkah lebih dekat dan lebih dekat lagi ke arah Kang-chi, dan kemudian tanpa mereka berdua sadari, mereka berdiri tidak lebih dari beberapa inci. Ketika dia menatap mata Kang-chi, ekspresinya mulai melembut.

Di belakang mereka berdua, bulan sabit menggantung dan bersinar di langit yang gelap dan di bawahnya, berdiri sebuah pohon persik tercantik yang sedang berbunga – seperti sedang mengawasi mereka berdua.

Aku berdiri di dalam sebuah penthouse, duduk di sofa sudut sambil menikmati segelas teh. Tiba-tiba hembusan angin datang entah dari mana, yang dengan lembut menyentuh wajahku dengan hangat.

“Mungkinkah? Inikah. Apakah ini memang sudah saatnya?” Aku bertanya-tanya.

Aku segera berdiri dan berlari ke arah balkon. Aku menatap kelangit dan melihat cahaya bulan sabit yang mengantung, namun sesuatu memang terasa berbeda. Aku mengedarkan pandangan kesekitar dan dari jauh aku melihat mereka. Aku melihat segalanya.

Pohon persik yang sedang berbunga dengan kecantikannya yang menyihir dan penuh misteri, dan sepertinya menggaungkan getaran yang tak bisa dilukiskan tapi juga menghangatkan hati.

Mataku berbinar dengan kebahagiaan. Sebuah senyum terbentuk di bibirku.

Ini sudah dimulai. Sekali lagi, cerita mereka dimulai.

Yeo-wool berjalan kearah Kang-chi. Dia menatap matanya dan jantungnya mulai berdegup kencang. Mata itu, menunjukkan kejujuran tapi mengapa aku harus mempercayainya?

*klik*

Kang-chi tercengang menatap tangannya dan menatap kearah Yeo-wool, benar-benar terkejut. Apakah dia baru saja memborgolnya?

“Tuan, aku tahu hidup ini berat, tapi sungguh, kau seharusnya tahu bagaimana caranya mempertahankan hidupmu.”

Kang-chi tertawa. Yeo-wool-ah, dia masih saja humoris seperti biasanya.

Merasa jengkel, Yeo-wool sudah hendak melanjutkan dengan pedas, tapi dia malah menemukan dirinya bersemu merah.

“Tapi, aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku tidak mencuri apapun! Aku bukan pencuri!”

“Jelaskan nanti saja di kantor polisi!”

“Tapi – ADUH! HENTIKAN ITU Yeo-wool-ah! HENTIKAN!”

Dia memelintir lengan Kang-chi dan berbisik di telinganya “Kau, siapapun namamu lebih baik tutup mulut! Seperti yang kau bisa lihat moodku sedang tidak bagus, jadi tutup mulutmu dan ikut denganku atau demi Tuhan aku akan mematahkan tanganmu!”

Kang-chi terdiam. Dia tersenyum. Dia tidak bisa mempercayai ini semua. Yeo-wool masih tetap sama, kuat tapi tetap penuh semangat, sama seperti Yeo-wool yang dia temui 422 tahun yang lalu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: